ARTIKEL PERHITUNGAN DOSIS PARENTERAL

 Kelompok 17

Marcellino Yode Irawan (2148201101) 

Sherly Alensia Prianggie (2148201080)

Vivin Yulian Putri (2148201099)


Mata Kuliah : Matematika Farmasi

Dosen Pengampu :

Deny Sutrisno, M.Pd


Abstrak

Kemampuan untuk menghitung dosis obat dengan tepat merupakan aspek penting dari pemberian obat kepada pasien. Dosis yang diresepkan mungkin tidak sama dengan dosis yang tersedia sehingga perawat harus menghitung dosis yang sebanding berdasarkan dosis yang tersedia. Dalam menentukan dosis yang tepat dari obat tertentu untuk pasien, perawat harus mempertimbangkan jenis kelamin, berat badan, usia dan kondisi fisik pasien dan juga obat-obat lain yang tengah digunakan pasien.

Obat adalah suatu bahan atau paduan bahan-bahan yang dimaksudkan untuk digunakan dalam menetapkan diagnosis, mencegah, mengurangkan, menghilangkan, menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit, luka atau kelainan badaniah dan rohaniah pada manusia dan atau hewan serta untuk memperelok atau memperindah badan atau bagian badan manusia termasuk pemakaian obat tradisional. Kita harus selalu memperhatikan bagaimana obat itu bekerja, dosis yang harus dikonsumsi, efek dari pemakaian obat tersebut dan keadaan dari obat itu sendiri apakah masih dalam keadaan baik atau sudah tidak layak untuk digunakan sehingga kita terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan seperti misalnya over dosis atau malah menimbulkan kekebalan bagi penyakit yang diderita atau bahkan dapat menimbulkan kematian jika salah dalam mengkonsumsi obat.

Jalur pemakaian obat yang paling efektif, (secara oral, rektal, parenteral) harus ditentukan dan ditetapkan petunjuk tentang dosis-dosis yang dianjurkan bagi pasien dalam berbagai umur, berat dan status penyakitnya. Untuk membantu pemakaian alat melalui jalur- jalur pilihannya telah diformulasikan dan disiapkan bentuk sediaan yang sesuai seperti tablet, kapsul, injeksi supositoria, ointment, aerosol dan lain-lain. Masing-masing dari unit- unit sediaan dirancang supaya dapat memuat sejumlah bahan obat tertentu supaya pemakaian sediaannya tepat dan menyenang kan. Perancangan, pengembangan, dan produksinya biasanya merupakan contoh yang prima dan aplikasi ilmu-ilmu farmasi campuran dari ilmu dasar, ilmu terpakai dan secara ilmu kedokteran dengan teknologi Kefarmasian.


Pendahuluan

Pemberian obat parenteral merupakan pemberian obat yang dilakukan dengan menyuntikkan   obat tersebut ke jaringan tubuh. Pemberian obat melalui parenteral dapat dilakukan dengan cara: 

Subcutaneous (SC) yaitu menyuntikkan obat ke dalam jaringan yang berada dibawah lapisan dermis.

Intradermal (ID) yaitu menyuntikkan obat ke dalam lapisan dermis, dibawah epidermis

Intramuscular (IM) yaitu muenyontikkan obat ke dalam lapisan otot tubuh 

Intravenous (IV) yaitu menyuntikkan obat ke dalam vena 


Selain keempat cara diatas, dokter juga sering menggunakan cara intrathecal.atau intraspinal, intracardial, intrapleural, intraarterial dan intraarticular untuk pemberian obat perenteral ini. 

Pemberian obat harus sesuai dengan prinsip 5 benar: 

Benar Klien : Periksa nama klien, nomer RM, ruang, nama dokter yang meresepkan pada catatan pemberian obat, catatan pemberian obat, kartu obat dan gelang identitas pasien 

Benar Obat: Memastikan bahwa obat generik sesuai dengan nama dagang obat, klien tidak alergi pada kandungan obat yang didapat. memeriksa label obat dengan catatan pemberian obat 

Benar Dosis : Memastikan dosis yang diberikan sesuai dengan rentang pemberian dosis untuk cara pemberian tersebut, berat badan dan umur klien; periksa dosis pada label obat untuk membandingkan dengan dosis yang tercatat pada catatan pemberian obat; lakukan penghitungan dosis secara akurat. 

Benar Waktu : periksa waktu pemberian obat sesuai dengan waktu yang tertera pada catatan pemberian obat (misalnya obat yang diberikan 2 kali sehari, maka pada catatan pemberian obat akan tertera waktu pemberian jam 6 pagi, dan 6 sore) 

Benar Cara : memeriksa label obat untuk memastikan bahwa obat tersebut dapat diberikan sesuai cara yang diinstruksikan, dan periksa cara pemberian pada catatan pemberian obat. 


Beberapa hal yang harus diperhatikan saat menyiapkan obat: 

Saat menyiapkan beberapa obat seperti heparin, insulin, digoxin lakukan pemeriksaan ulang.

Jangan membuka bungkus obat jika dosis obat belum pasti. Buka sebelum diberikan pada klien. 

Ketika menyiapkan obat topikal, nasal, opthalmic dan obat-obat dan kardus obat, ambil obat dari kotaknya dan periksa label untuk memastikan isinya sesuai.

Saat mengambil pil dan botol, tuangkan pil tersebut pada tutupnya kemudian letakkan pada tempat obat. 

Tuangkan obat cair tidak pada bagian labelnya. Baca jumlah obat yang dituang pada dasar meniscus. 

Pisahkan obat-obat yang memerlukan data pengkajian awal, seperti tanda vital.

Periksa tanggal kadaluarsa obat saat menyiapkannya.


Untuk mencegah masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh, obat disiapkan dan diberikan dengan menggunakan prinsip steril. Larutan obat, jarum dan spuit yang telah terkontaminasi, akan menyebabkan terjadinya infeksi. Obat-obat yang diberikan melalui parenteral ini diabsorbsi lebih cepat dibandingkan obat yang diberikan melalui sistem gastrointestinal, karena obat tidak perlu melewati barier jaringan epitel pada organ gastrointestinal sebelum akhirnya masuk ke dalam sirkulasi darah. Obat intra muscular diabsorbsi lebih cepat daripada obatt subcutaneous atau ontradermal, karena otot memiliki jaringan pembuluh darah yang lebih banyak daripada kulit atau jaringan subkutan. Obat intradermal merupakan obat yang diabsorbsi paling lambat karena obat harus melalui beberapa jaringan epitel sebelum akhirnya masuk kedalam pembuluh darah. Karena itu cara intradermal digunakan untuk menyuntikkan zat asing untuk mengetahui reaksi organ dan jaringan terhadap adanya alergi, yang biasa disebut skin test. Absorbsi melalui subcutaneos relatif lambat tetapi efektif untuk absobsi sejumlah obat yang tidak diabsorbsi melalui sistem gastointestinal. 

Keuntungan pemberian obat melalui parenteral adalah obat dapat diabsorbsi dengan cepat melalui pembuluh darah. Cara parenteral ini dapat dilakukan jika obat tidak dapat diabsorbsi melalui sistem gastrointestinal atau malah akan dihancurkan olehnya. Obat juga diberikan pada klien yang tidak sadar atau tidak kooperatif yang tidak dapat atau tidak mau menelan obat oral. Disamping keuntungan diatas, terdapat beberapa kerugian pada pemberian obat melalui parenteral ini. Klien, terutama anak-anak akan merasa cemas jika akan disuntuk. Penyuntikan akan menyebabkan timbulnya rasa nyeri dan tidak nyaman pada klien. Iritasi atau reaksi lokal dapat terjadi akibat efek obat pada jaringan. Pemberian obat melalui parenteral juga dapat menyebabkan terjadinya infeksi, kerena itu diperlukan penggunaaan tehnik steril untuk menyiapkan dan memberikan obat ini. Pemberian obat perenteral ini kontraindikasi untuk klien yang mengalami masalah perdarahan atau sedang mendapatkan terapi antikoagulan. 

Obat yang disuntikkan ke dalam tubuh dapat berupa larutan cair atau suspensi. Larutan cair disiapkan dalam tiga bentuk : ampul, vial dan unit disposible. Untuk memberikan obat melalui parenteral ini diperlukan spuit yang ukurannya bervariasi dari 0,5 ml nirigga 50 ml. Spuit yang lebih dari 5 ml jarang digunakan untuk menyuntik SC atau IM. Spuit yang lebih besar biasanya digunakan untuk menyuntikkan obat melalui IV. Spuit insulin berukuran 0,5 - 1 ml dan dikalibrasi dalam unit. Spuit tuberkulin berukuran 1 ml dan dikalibrasi dalam mililiter. Spuit tuberkulin ini digunakan untuk memberikan obat dibawah ml. 

Obat dalam ampul dan vial dipersiapkan dengan menggunakan teknik aseptik dan diberikan melalui parenteral. Sebelumnya perlu diperhatikan dan dikaji kondisi larutan (kejernihan cairan, adanya/tidaknya endapan, warna cairan sesuai dengan label) serta tanggal kadaluarsa obat pada label vial. 

Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menyiapkan obat dan vial:  

Jika obat perlu dicampurkan, ikuti petunjuk pada vial

Pertahankan kesterilan spuit, jarum dan obat saat menyiapkannya.

Perlu pencahayaan yang baik saat menyiapkan obat ini.

Buang bekas ampul pada tempat khusus setelah dibungkus dengan kertas tissue




Contoh Soal :

SINGLE DOSE

Seorang pasien bernama Dinda menderita asma bronkiale dan diberi aminofilin dengan dosis 200 mg secara i.v. Tersedia injeksi aminofilin ampul 10 ml, kandungannya 24 mg/ml. Berapa ml injeksi  aminofilin  diberikan  kepadpada  Dinda tersebut?

Jawab :  (200 mg)/(240 mg) x 10 ml=8,3 ml 

Jadi, injeksi aminofilin yang diberikan kepada Dinda sebanyak 8,3 ml


MULTIPLE DOSE

Ana perlu diinjeksi ampisilin dengan dosis 200 mg.    Tersedia injeksi ampisilin kemasan vial berisi 1 g/2ml, Berapa ml injeksi ampisilin yang diperlukan?


Jawab :  (200 mg)/(1000 mg)              X  2 ml = 0,4 ml

Jadi, injeksi ampisilin yang diperlukan Ana sebanyak 0,4 ml


INFUS INTRAVENOSA

Seorang   bayi bernama Azmi menderita H.influenza meningitis   diberi infuse  250 mg ampisilin  Na dalam 100 ml Dekstrose 5% yang harus habis dalam waktu 4 jam. Bila  penetes  infus yang dipakai adalah 1 ml= 60 tetes, berapa kecepatan infus dalam 1 menit ?


Jawab : 1 ml = 60 tetes   100 ml = 100 x 60 tetes = 6000 ttetes

  4 jam = 4 x 60 menit = 240 menit

   

               6000/240=25 tetes/menit 


Jadi, kecepatan infuse tersebut dalam 1 menit adalah 25 tetes/menit


Selama 24 jam setelah operasi, Okky (18 th) diinfus dengan dextrose 5% dalam 0,2%      saline. Jumlah volume total infus yang diberikan selama 24 jam adalah 3 L. Bila 1 ml infus = 10 tetes, berapa kecepatan infus dalam 1 menit


Jawab : 1 ml = 10 tetes 

 3 liter = 3000 x 10 tetes = 30.000 tetes 

         24 jam = 24 x 60 menit = 1440 menit


Jadi tiap  menit =   (30.000 )/1440    = 20,83 tetes   (21 tetes)






Mutiara di instruksikan diberi 75 mg pethidin. Tersedia ampul berisi 100 mg dalam 2 ml. Berapa ml kah yang disuntikkan?


Jawab : D = dosis yang diinginkan 75 mg H

        = dosis yang tersedia 100 mg


                   V = bentuk sediaan yang tersedia 2 ml maka 

                          =(75 mg)/(100 mg)X 2 ml 

                          = 1,5 ml

                      

                Jadi, ml yang disuntikkan sebanyak 1,5 ml


Seorang pasien dewasa bernama Mita dipasangkan Infus set Makro diperlukan rehidrasi dengan 1000 ml (2 botol) dalam 1 jam atau mendapat advis dari dokter 1000ml/1jam, maka tetesan per menit adalah?


Jawab : Jumlah Cairan=1000 ml     

    Faktor tetesan=20 tetes/ml 

    Jumlah jam = 1 jam


(1000 ml x 20 tetes/ml)/(1 jam x 60 menit)=333 tetes/menit

Jadi, jumlah tetesan per menit nya sebanyak 333 tetes/menit


Seorang pasien bernama Arum menderita tuberkulosis dan di beri obat isoniazid 225 mg secara i.v. tersedia injeksi isoniazid 12 ml, dengan kandungan 100 gram/ml. Berapa ml injeksi isoniazid yang diberikan kepada pasien tersebut ?


Jawab :  X= ( dosis yang diminta/dosis yang tersedia) x Volume yang tersedia 


   x = (225 mg)/(100 mg)  x 12 ml=22,5 ml 


Jadi, injeksi yang diberikan kepada lilies sebanyak 22,5 ml

  

Cesi diberi injeksi obat lovastatin dengan dosis 80 mg/hari secara intensif. Tersedia juga injeksi obat lovastatin 240 mg/ml tiap 1 tablet. Berapa ml injeksi lovastatin yang di perlukan ? 


Jawab : X= ( dosis yang diminta/dosis yang tersedia) x 1 tablet 


               X = (80 mg)/(240 mg)  x 1 tablet=0,33 ml 

  

  Jadi, injeksi Iovastatin yang diperlukan sebanyak 0,33 ml






Pasien bernama Misye mendapat 50 ml antibiotik selama 30 menit. Set IV yang digunakan adalah 60 tetes/ml, maka hitung seberapa cepat pemberian tersebut?


Jawab: Jumlah cairan 50 ml    

Faktor tetes 60 tetes/ml    Jumlah jam 0,5 jam


 (50 ml x 60 tetes/ml)/(0,5 jam x 60 menit)=100 tetes/menit

Jadi, cepat dari pemberian tersebut adalah 100 tetes/menit


Dokter meresepkan obat heparin kepada Felix sebanyak 7500 unit s.c yang tersedia heparin 10.000 unit/ml. Hitung berapa ml yang sediaan heparin yang perlu diberikan?

Jawab : (7500 unit)/(10.000 unit)  x ml=0,75 ml


  Jadi, sedian heparin yang diperlukan ada sebanyak 0,75 ml

PERHITUNGAN LAJU ALIRAN

PENGERTIAN

- Laju aliran suatu larutan IV adalah volume yang diberikan selama periode waktu tertentu

- Dinyatakan dalam ml/jam atau ml/menit

CONTOH SOAL

- Seoarang pasien akan menerima 1 L injeksi NaCl 0.9% selama 24 jam untuk menjaga agar venanya tetap terbuka sebagai antisipasi jika sewaktu-waktu obat harus diberikan secara IV. Berapa laju aliran (ml/jam) untuk larutan ini?

- Satu liter kantong injeksi ringer terlaktasi diberikan sebagai infus dengan laju 125 ml/jam. Berapa lama pemberian infus akan berlangsung?


Komentar